Jejak Persilangan Cita Rasa Tionghoa dan Lokal dalam Masakan Nusantara

charmingfarming.com – Semangkuk bakso, sepiring lumpia, dan lontong cap go meh terasa begitu “Indonesia” sampai kita jarang bertanya dari mana asalnya.

Padahal nama, teknik, dan bumbu nya menyimpan jejak pertemuan panjang antara pendatang Tionghoa dan masyarakat setempat, yang lalu menyesuai kan diri dengan bahan, selera, dan kepercayaan di Nusantara.

Bagaimana Pengaruh Itu Masuk?

Sebuah makalah di jurnal INSPIRE (Politeknik Internasional Bali, 2024) menyimpulkan pengaruh kuliner Tionghoa tercatat sejak masa awal dan menguat dari abad ke-15, meski tidak ada satu sumber pun yang menunjuk kontak pertama secara pasti. Penulisnya membagi migrasi ke dalam tiga fase: perdagangan dengan di nasti-dinasti Tiongkok, kedatangan bersama bangsa Eropa (termasuk masa VOC), dan era kolonial Belanda yang membawa buruh kontrak.

Makalah yang sama menyebut pengaruh itu terlihat pada bahan, hidangan, dan teknik seperti menggoreng, menumis, membuat gula, dan minuman fermentasi. Hidangan lalu disesuaikan dengan selera lokal yang sebagian besar Muslim: babi di ganti ayam, ikan, atau udang, dan di beberapa daerah muncul versi yang lebih manis.

Perlu di ingat, makalah tersebut adalah kajian pustaka dari sumber sekunder, dan penulisnya sendiri menggunakan sebagian sumber informal. Gambaran besarnya masuk akal, tetapi detail kasus per kasus perlu di timbang.

Lumpia Semarang: Kisah Dua Dapur

Lumpia adalah contoh akulturasi yang paling sering dikutip. Menurut GNFI (September 2026) dan Mongabay Indonesia (September 2023), kisahnya berawal dari Tjoa Thay Joe, perantau asal Fujian, dan seorang perempuan Jawa bernama Wasih (atau Wasi). Keduanya sama-sama berjualan makanan, bertukar ide, lalu menikah dan menggabungkan resep. GNFI menyebut versi Tjoa berisi rebung dan daging babi, sedangkan versi Wasih berisi kentang dan udang yang lebih manis. Setelah menikah, babi dihilangkan agar diterima lebih luas.

Kisah ini perlu dibaca sebagai tutur yang beredar, bukan fakta terdokumentasi. GNFI sendiri menandainya dengan frasa “menurut cerita yang berkembang”. Makalah INSPIRE juga menandai kisah ini sebagai tidak jelas rujukannya.

Beberapa detail yang lebih mapan menurut sumber yang sama:

  • Lumpia Semarang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2014 (GNFI, Mongabay).
  • Isian khasnya rebung, udang, dan telur.
  • Lumpia tumbuh di rumah tangga Tionghoa peranakan dan dijual awalnya di kawasan Pecinan. GNFI menyebut Gang Lombok, dekat Kelenteng Tay Kak Sie.
  • Menurut GNFI, baru pada 1980-an lumpia dipandang sebagai kuliner khas kota, bukan hanya milik peranakan.
  • Mongabay mencatat pada masa Orde Baru masyarakat Tionghoa dibatasi di politik dan ibadah tetapi diberi ruang di perdagangan, sehingga industri lumpia berkembang menjadi representasi identitas peranakan Semarang.

Soal nama, sumber tidak sepakat: GNFI 2025 menyebut “lumpia” berasal dari lun pia (hidangan Tiongkok), Mongabay menjelaskan lun sebagai kata Jawa untuk gulung dan pia sebagai kata Hokkien untuk kue, sedangkan makalah INSPIRE menautkannya ke kata Hokkien “lun/lum” dan “pia”.

Lontong Cap Go Meh: Perpaduan di Meja Perayaan

Menurut Detik Jateng (Februari 2024), lontong cap go meh lahir dari saling pengaruh masakan Tionghoa dan Jawa ketika para perantau menikah dengan perempuan setempat dan membentuk komunitas Tionghoa peranakan. Hidangan ini disajikan bersama opor ayam, sayur lodeh, acar, sambal goreng, dan kerupuk. Artikel itu menafsirkan lontong sebagai pengganti ronde (bola ketan) yang menjadi makanan Cap Go Meh di Tiongkok. Detik mengutip makalah seminar dan buku Perayaan Tionghoa di Indonesia, tetapi tidak merinci bagaimana klaim pengganti ronde dan makna keberuntungan itu didukung, jadi anggap itu tafsir, bukan fakta tunggal.

Cap Go Meh jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar.

Mie Ayam dan Bakmi

GNFI (September 2024) mengaitkan mie ayam dengan penyesuaian mi Tionghoa: di Tiongkok mi biasa disajikan dengan daging babi dan minyaknya, sedangkan di Indonesia diganti ayam yang dimasak dalam kecap dan minyak ayam. Artikel itu menjelaskan khasnya mi rebus yang kenyal dengan minyak ayam beraroma jahe, lada, ketumbar, dan bawang putih. Soal perantau Wonogiri, GNFI menyebut mereka bekerja di restoran mie ayam milik pengusaha Tionghoa di Jakarta pada 1980-an lalu membuka warung sendiri. Artikel itu hanya mencantumkan satu rujukan tanpa penulis dan tanggal, dan memuat inkonsistensi (minyak sayur versus minyak kelapa), jadi detailnya perlu hati-hati.

Kecap Manis, Tahu, dan Teknik di Dapur

Makalah INSPIRE menyebut kecap (disesuaikan menjadi kecap manis), tauco, dan bawang putih sebagai bahan yang dikaitkan dengan pengaruh Tionghoa, bersama tahu, bihun, dan hidangan seperti capcai, bakpao, dan siomay. Tentang kecap manis, GNFI (Mei 2025) mengklaim Cheng Ho membawa kedelai ke Indonesia lalu dipadukan dengan gula jawa, tetapi artikel itu tidak menyebut sumbernya, jadi klaim itu tidak saya pakai sebagai fakta.

Tirto (April 2022) menulis bahwa bawang putih, jahe, dan daun bawang adalah “trinitas” masakan Tionghoa dan berpendapat bahwa rasa bawang putih yang kuat di Semarang berasal dari tradisi itu lalu berpadu dengan rasa manis khas Jawa. Itu opini penulis, bukan temuan yang dibuktikan, dan contoh hidangan yang disebut (soto gagrak, mie kopyok, tahu gimbal, bakmi goreng) menunjukkan betapa luas pengaruhnya, tetapi tidak membuktikan asal tiap unsur.

Jejak di Kosakata

Banyak nama makanan kita berakar dari bahasa Tionghoa, terutama Hokkien. Makalah INSPIRE menyebut bakpao (dikaitkan dengan “bak”, daging), capcai (campuran sayur), dan lumpia sebagai contoh. GNFI (2025) menyebut bakso, soto, dan cincau sebagai kata pinjaman. Satu artikel jurnal bahasa dari Universitas Sumatera Utara (2021), dengan 50 responden mahasiswa Mandarin, mengutip angka 1.046 kata pinjaman Tionghoa dalam bahasa Melayu/Indonesia dari peneliti lain, tetapi sampelnya kecil dan angka itu tidak saya telusuri ke sumber aslinya.

Artikel yang sama mengaitkan soto dengan hidangan Tiongkok bernama caudo. Penulis lain menandai asal-usul soto sebagai belum diverifikasi, dan saya tidak menemukan sumber kuat yang menyelesaikan perdebatan ini. Jadi lebih aman menyebut soto sebagai hidangan yang punya dugaan jejak Tionghoa, bukan sebagai hidangan Tionghoa yang dipindahkan begitu saja.

Gado-Gado: Hati-Hati dengan Klaim

GNFI (Januari 2023) menulis bahwa teknik memasak Tionghoa mungkin ikut membentuk gado-gado Betawi dan menyamakan rasanya dengan capcai, tetapi penulisnya sendiri menggunakan kata “barangkali” dan mengakui tidak ada catatan sejarah pasti. Artikel itu juga menyebut versi asal lain: kampung Tugu keturunan Portugis dan prajurit Mataram. Jadi gado-gado adalah contoh bahwa persilangan budaya di Nusantara sering berlapis, tidak hanya dua arah.

Cara Menikmati dan Menelusuri

Bagian ini saran saya, bukan temuan sumber:

  1. Cicipi satu hidangan yang sama di dua kota dan perhatikan bedanya, misalnya mie ayam, lumpia, atau bakmi.
  2. Perhatikan bahan pembeda: rebung dan kulit tipis pada lumpia, minyak ayam pada mie ayam, bawang putih goreng pada soto.
  3. Tanyakan kepada penjual atau pemilik warung tentang cerita usahanya, tapi perlakukan cerita asal-usul sebagai cerita, bukan fakta sejarah.
  4. Jika kamu memperhatikan kehalalan, jangan menganggap penyesuaian seperti mengganti babi dengan ayam otomatis menjamin kehalalan. Periksa sertifikasi atau tanyakan langsung.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *